Kamis, 17 Oktober 2013

Definisi individu, keluarga, masyarakat, pemuda (mahasiswa/i) dan permasalahannya

Pengertian Individu, Keluarga , Masyarakat Dan pemuda



 
1) Pengertian Individu 



      Individu berasal dari kata latin, “individuum” yang artinya tak terbagi. Kata individu merupakan sebutan yang dapat untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Kata individu bukan berarti manusia sebagai keseluruhan yang tak dapat dibagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan, demikian pendapat Dr. A. Lysen. 

        Individu menurut konsep Sosiologis berarti manusia yang hidup berdiri sendiri. Individu sebagai mahkluk ciptaan Tuhan di dalam dirinya selalu dilengkapi oleh kelengkapan hidup yang meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun. 

1. Raga, merupakan bentuk jasad manusia yang khas yang dapat membedakan antara individu yang satu dengan yang lain, sekalipun dengan hakikat yang sama 



2. Rasa, merupakan perasaan manusia yang dapat menangkap objek gerakan dari benda-benda isi alam semesta atau perasaan yang menyangkut dengan keindahan 



3. Rasio atau akal pikiran, merupakan kelengkapan manusia untuk mengembangkan diri, mengatasi segala sesuatu yang diperlukan dalam diri tiap manusia dan merupakan alat untuk mencerna apa yang diterima oleh panca indera. 



4. Rukun atau pergaulan hidup, merupakan bentuk sosialisasi dengan manusia dan hidup berdampingan satu sama lain secara harmonis, damai dan saling melengkapi. Rukun inilah yang dapat membantu manusia untuk membentuk suatu kelompok social yang sering disebut masyarakat 




2) Pengertian Keluarga 



         Ada beberapa pandangan atau anggapan mengenai keluarga. Menurut Sigmund Freud keluarga itu terbentuk karena adanya perkawinan pria dan wanita. Lain halnya Adler berpendapat bahwa mahligai keluarga itu dibangun berdasarkan pda hasrat atau nafsu berkuasa. 

            Durkheim berpendapat bahwa keluarga adalah lembaga sosial sebagai hasil faktor-faktor politik , ekonomi dan keluarga. 

            Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan berpendapat bahwa keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial, enak dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itub untuk memuliakan masing-masing anggotanya. 
2.1)  HUBUNGAN PERMASALAHAN DALAM KELUARGA DI MASYARAKAT 

       Hubungan Permasalahan dalam Kehidupan Masyarakat Setiap orang pasti mempunyai masalah dalam hidup, masalah terjadi karena kesalahan kita sendiri, masalah yang timbul karena orang lain atau memang sudah saatnya menghadapi masalah. 

1. Masalah Dalam Percintaan (Hati) 
  • Baru mengalami Jatuh Cinta 
  • Ada masalah dalam Hubungan Pacaran mungkin masalah Sakit Hati karena Cinta Semua itu sering dialami dan pasti bakal terjadi dalam sebuah hubungan asmara 
  • Antara suami-istri 
  • Masalah antara orang tua dan anaknya 
  • Masalah dengan saudara dalam keluarga 
2. Masalah Dalam Keluarga 
  • Antara suami-istri 
  • Masalah antara orang tua dan anaknya 
  • Masalah dengan saudara dalam keluarga 
3. Masalah di Sekolah 
  • Masalah dengan Guru 
  • Masalah dengan teman di sekolah 
  • Masalah pembayaran uang sekolah 
  • Masalah percintaan juga waktu disekolah 
4. Masalah Dalam Pekerjaan 
  • Dengan atasan di tempat bekerja 
  • Dengan rekan kerja Masalah 
  • Di PHK “Putus Hubungan Kerja” 
Contoh Kasus Permasalahan yang Terjadi dalam Keluarga

Polisi Tangkap Pemerkosa Anak Dibawah Umur 

Pemerkosan Anak di bawah umur kembali terjadi. Kali itu musibah itu menimpa Kenanga, 12 tahun, bukan nama sebenarnya di Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Pemerkosaan yang sudah empat kali terjadi itu, baru dilaporkan korbannya setelah dia tidak diberi uang untuk membeli mie instan oleh tersangka, Jumat (12/5) malam. Junawan, 21 tahun, tersangka kasus pemerkosaan ini mengaku telah memperkosa Kenanga sejak April lalu. Dia merasa tergoda ketika menonton TV bersama di rumahnya. Kebetulan, Kenanga tinggal satu atap dengan Junawan. Orangtua Kenanga mengontrak rumah di lantai satu, milik orang tua Junawan. Dan, Keluarga Junawan tinggal di lantai atas. Keluarga itu juga menggunakan akses keluar masuk melewati rumah di lantai satu itu. Menurut Junawan, pemerkosaan biasa dilakukan sekitar pukul 09.00 hingga 12.00 siang. Karena pada saat itu rumah dalam keadaan sepi. Orang tua Kenanga sedang bekerja. Begitu pula dengan orang tua Junawan yang berdagang daging pergi ke pasar, sedangkan dua adiknya sekolah. “Pada awalnya dia (korban) memberontak, tetapi selanjutnya tidak. Saya selalu mengancamnya bila berani mengadu,” ujar Junawan. Seusai melakukan pemerkosaan, Junawan selalu memberikan uang kepada Kenanga Rp 10 ribu. Jumat kemarin, kata Junawan, Kenanga minta uang kepadanya untuk membeli mie instan. Karena tak diberi, Kenanga mengadukan perbuatan Junawan kepada orang tuanya. Orang tua Kenanga melaporkan kasus itu ke polisi. Petugas Polsek Cengkareng menangkap Junawan dini hari ini di rumahnya. Kini pemuda pengangguran itu mendekam di sel tahanan Polsek Cengkareng. 

komentar :
Dari contoh kasus diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kasus tersebut dapat dilakukan melalui 3 penyelesaiannya :  1. Sosialisasi sex edukasi yang baik dan benar sesuai dengan umurnya. Tujuanya agar anak-anak yang masih didalam pengawasan orang tuanya mengerti dengan baik bahwa ada organ-organ sensitive mereka yang harus dijaga dengan baik. 
2. Bimbingan dan kasih sayang orang tua. Tekanan ekonomi atau ketidak dekatan kasih sayang dari keluarga bias menjadi factor pemicu si anak mencari pelampiasan lain. 
3. Bimbingan atau konseling dari pihak professional. Dimaksudkan apabila sudah terjadi pemerkosa akan mendapatkan hukuman agar menimbulkan efek jera selain itu juga konseling dari pihak professional seperti psikolog untuk membantu proses pembenahan mental.




3) Pengertian Masyarakat 



           Masyarakat merupakan salah satu satuan sosial sistem sosial, atau kesatuan hidup manusia. Istilah inggrisnya adalah society , sedangkan masyarakat itu sendiri berasal dari bahasa Arab Syakara yang berarti ikut serta atau partisipasi, kata Arab masyarakat berarti saling bergaul yang istilah ilmiahnya berinteraksi. 

           Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya. Ada beberapa pengertian masyarakat : 

a. Menurut Selo Sumarjan (1974) masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan 



b. Menurut Koentjaraningrat (1994) masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas yang sama. 



c. Menurut Ralph Linton (1968) masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang hidup dan bekerja sama dalam waktu yang relatif lama dan mampu membuat keteraturan dalam kehidupan bersama dan mereka menganggap sebagai satu kesatuan sosial. 



d. Menurut Karl Marx, masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi 



e. Menurut Emile Durkheim, masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya. 



f. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt, masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut 



        Tatanan kehidupan, norma-norma yang mereka miliki itulah yang dapat menjadi dasar kehidupan sosial dalam lingkungan mereka, sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri kehidupan yang khas. 




 3.2  HUBUNGAN PERMASALAHAN MASYARAKAT



Hubungan Permasalahan dalam kehidupan masyarakat

Masalah, setiap orang pasti punya masalah dalam hidup, masalah yang terjadi karena kesalahan kita sendiri, masalah yang timbul karena orang lain atau emang udah saatnya menghadapi masalah. Banyak yang pusing kalo lagi ada masalah, gimanacara Menyikapi Masalah Dalam Kehidupan yang di alami.
Seperti apakah masalah dalam kehidupan manusia yang sering terjadi?

1.Masalah Dalam Percintaan (Hati)
Kalo masalah dalam Percintaan (Hati) Banyak yang di alami oleh ABG, Masalah tersebut tidak jauh dalam Putus cinta, makanya itu pengaruh dalam kehidupan . Hal-hal tersebut sebagai berikut:
Baru mengalami Jatuh Cinta
Ada masalah dalam Hubungan pacaran
mungkin masalah Sakit Hati karena Cinta
Semua itu sering dialami dan pasti bakal terjadi dalam sebuah hubungan asmara

2. Masalah Dalam Keluarga
Permasalah dalam  keluarga sering yang kita alami dalam anggota keluarga, masalah ini timbul adalah :
Antara suami-istri
Masalah antara orang tua dan anaknya
masalah dengan saudara dalam keluarga

3.  Masalah di Sekolah
Masalah sekolah sering terjadi saat ini karena masalah sekolah di factor  oleh lingkungan sendiri. Hal – hal apa yang pengaruhi factor itu:
Masalah dengan Guru
Masalah dengan teman di sekolah
Masalah pembayaran uang sekolah
Masalah percintaan juga waktu disekolah


komentar:


Setiap manusia di dunia ini mempunyai masalah masing-masing, masalah terjadi karena kesalahan kita sendiri dan karena orang lain. Sebagai contoh, masalah percintaan seperti ABG yang sedang mengalami masalah cinta, maka dengan masalah itu mempengaruhi kehidupannya. Sampai ada yang ingin bunuh diri karena masalah percintaan yang dialaminya. Namun, semua manusia harus bisa menghadapi masalah yang dihadapi agar masalah itu selesai dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari. Karena masalah akan terus datang kalau tidak diselesaikan dan tidak ada jalan keluarnya.

4) DEFINISI PEMUDA


Berbagai definisi berkibar akan makna kata pemuda. Baik ditinjau dari fisik maupun phisikis akan siapa yang pantas disebut pemuda serta pertanyaan apakah pemuda itu identik dengan semangat atau usia. Terlebih kaitannya dengan makna hari Sumpah Pemuda.

Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”.

Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10 -19 tahun. Contoh lain di Canada dimana negara tersebut menerapkan bahwa “after age 24, youth are no longer eligible for adolescent social services”

Definisi yang berbeda ditunjukkan oleh Alquran. Dalam kaidah bahasa Qurani pemuda atau yang disebut “asy-syabab”didefinisikan dalam ungkapan sifat dan sikap seperti:

1. berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang (berani) melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Se­sungguhnya dia termasuk orang orang yang zalim, Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang (berani) mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS.Al­-Anbiya, 21:59-60).

2. memiliki standar moralitas (iman), berwawasan, bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dalam dengan perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (para pemuda penghuni gua).“Kami ceritakan kisah me­reka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda.pe­muda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah­kan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, se­sungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS.18: 13-14).

3. seorang yang tidak berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan; atau aku akan ber­jalan sampai bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60).

Jadi pemuda identik dengan sebagai sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, dsb. Kelemahan mecolok dari seorang pemuda adalah kontrol diri dalam artian mudah emosional, sedangkan kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural dengan menjadi pelopor perubahan itu sendiri.


KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PEMUDA

Berdasarkan letaknya yang berada di antara akhir masa remaja sampai akhir dewasa awal, maka pemuda memiliki ciri-ciri yang secara positif dan negatif sebagai berikut:
1. Kemampuan koginitifnya sudah penuh, hal ini tercermin dari kemampuan pemuda dalam mengetahui dan memahami suatu persoalan yang pada akhirnya dapat membentuk sikap pemuda terhadap permasalahan yang dihadapinya,
2. Kematangan emosional, bahwa pemuda dengan dilandasi kemampuan berpikirnya dapat mengendalikan dan menempatkan emosinya dalam menghadapi permasalahan.
3. Fungsi reproduksinya meningkat, sejalan dengan perkem¬bangan biologis seorang pemuda adalah kelompok manusia yang lebih siap untuk menikah dan memiliki keturunan.
4. Banyak masalah, bahwa pemuda memang kaya akan ide-ide, dan ide ini sendiri dilandasi oleh nilai-nilai ideal. Namun tidak semua ide dan keinginan tersebut dapat terwujud karena kondisi di masyarakat sulit sekali mewujudkan nilai ideal tersebut.
5. Keterasingan sosial, kemampuannya untuk berpikir ideal dan tidak memihak acapkali mendorong pemuda pada keadaan yang terasing dari lingkungan sosial
6. Rasa tanggung jawab yang tinggi, hal ini dilandasi keinginan untuk mewujudkan segala sesuatu yang menjadi keinginannya. Akibatnya segala sesuatu yang dikerjakan, dilakukannya secara bertanggung jawab.
7. Kreatif dan inovatif, hal ini berkaitan dengan penciptaan ide-ide atau pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi.
8. Ketergantungan dengan generasi yang lebih tua, hal ini dilandasi kenyataan pemuda itu masih kurang akan pengalaman dan pengalaman itu adanya pada generasi yang lebih tua.

Pemuda sebagai suatu kategori sosial harus didefinisikan secara tegas, bukan sekedar “yang berjiwa muda.” Hal ini akan menyebabkan penyalahgunaan secara politis atau pengatas¬namaan pemuda sehingga aspirasi mereka sebagai suatu kelompok usia terwakili. Pengembangan kepemudaan harus dilakukan .secara “incor¬porated” melibatkan semua potensi bangsa secara menyeluruh sehingga terdapat suatu konsistensi secara nasional (big push).


APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH PEMUDA

Pemuda memiliki semangat untuk berubah dan kemampuan untuk melakukan perubahan. Hal ini yang menjadi peran paling penting dari pemuda. Jika kita melihat kembali sejarah Indonesia, kita akan melihat begitu dominannya peran pemuda dalam melakukan perubahan. Dimulai dari kebangkitan nasional 100 tahun silam, sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal persatuan Indonesia, kemerdekaan republik Indonesia, lahir dan tumbangnya orde baru serta lahinya orde reformasi. Sejarah mengatakan tanpa pemuda negeri ini tidak akan menikmati kemerdekaan dan terus menerus hidup dalam ketidakadilan.
Perubahan menjadi indikator suatu keberhasilan terhadap sebuah gerakan pemuda. Perubahan menjadi sebuah kata yang memiliki daya magis yang sangat kuat sehingga membuat gentar orang yang mendengarnya, terutama mereka yang telah merasakan kenikmatan dalam iklim status quo. Kekuatannya begitu besar hingga dapat menggerakkan kinerja seseorang menjadi lebih produktif. Keinginan akan suatu perubahan melahir sosok pribadi yang berjiwa optimis. Optimis bahwa hari depan pasti lebih baik. (artikel.blogdrive.com)
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, namun bangsa ini menderita karena kezaliman para pemimpinnya. Sudah cukup lama bangsa Indonesia mengalami Krisis multidimensional. Mulai dari ekonomi, moneter, hukum, moral dan masih banyak lagi.
Indonesia yang notabenenya Negara tropis maritim kaya raya menempati peringkat IPM (indeks pembangunan masyarakat) 109 dari 174 negara . ini sudah menjadi fakta bahwa indonesia membutuhkan perubahan. Indonesia harus menjadi barisan Negara-negara maju di dunia dimana keadilan dan kesejahteraan menjadi bagian tak terpisahkan. Angka kemiskinan harus ditekan seminimal mungkin begitupula dengan angka pengangguran. Korupsi harus diberantas, supremasi hukum harus ditegakkan. Isu-isu negative tidak boleh lagi terdengar di Indonesia, lingkungan, social, politik dan pendidikan. Dan satu hal yang tidak boleh terlupakan adalah perbaikan moral khususnya para pemuda Indonesia.


KONDISI PEMUDA INDONESIA SAAT INI

Problematika pemuda yang terbentang di hadapan kita sekarang sungguh kompleks, mulai dari masalah pengangguran, krisis mental, krisis eksistensi, hingga masalah dekadensi moral. Budaya permisif dan pragmatisme yang kian merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan hedonis, serba instant, dan tercabut dari idealisme sehingga cenderung menjadi manusia yang anti sosial. (rumahzakat.org)
Sehingga muncul pertanyaan, apakah masih relevan pemuda dikataka sebagai agen perubahan di masa saat ini? tentu saja jawabannya adalah ya!masih ada pemuda-pemuda Indonesia yang peduli dengan bangsanya. Tinggal bagaimana caranya agar pemuda lainnya bisa turut berkontribusi untuk perubahan bangsa Indonesia.
Dalam konteks internasional, kepemudaan (youth) merupakan isu sekaligus problematika global karena menyentuh tataran nilai sosial dan budaya masyarakat hampir di seluruh belahan bumi ini. Masalah kepemudaan pun telah berkembang sebagai wacana global dalam kurun waktu lebih dari satu dekade terakhir. Pembahasannya cenderung menempati posisi strategis dalam berbagai agenda pertemuan berskala bilateral, regional dan multilateral.
Keprihatinan terhadap kondisi pemuda saat ini harus tetap diprihatinkan tanpa mengabaikan perubahan itu sendiri. Karena suatu perubahan tidak perlu menunggu orang banyak. Dia akan bergulir dengan sendirinya bersama para pemuda yang teguh dengan komitmennya untuk perubahan.
4.1) PERMASALAHAN GENERASI PEMUDA 
Sudah tidak asing lagi permaslahan seorng pemuda, yaitu demonstrasi, dan apa itu demonstrasi?. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, demonstrasi adalah pernyataan protes yg dikemukakan secara massal atau unjuk rasa. Dan menurut wikipedia, demonstrasi atau unjuk rasa adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok. Sedangkan arti dari Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi atau universitas. Jadi berdasarkan arti kata, demonstrasi mahasiswa adalah sebuah pernyataan atau gerakan protes yang dilakukan oleh sekumpulan mahasiswa atau orang yang belajar di perguruan tinggi.

Kemudian jika kita jabarkan lagi subkata dari kata mahasiswa, yaitu kata maha dan siswa. Maha berarti besar/tinggi dan siswa adalah pelajar/ orang yang mempelajari sesuatu. Maka artinya bahwa mahasiswa adalah orang terpelajar yang derajatnya lebih tinggi dari lainnya. Yang mana idealnya merupakan seseorang yang telah matang akal dan pikirannya, dan tau benar baik dan buruk. Sehingga jika kita kembali kepada arti demonstrasi mahasiswa, berarti merupakan demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa yang mana tentu apa yang dilakukannya adalah untuk sesuatu yang baik.

Namun selama ini, justru sebaliknya. Demonstrasi mahasiswa terdengar sesuatu yang negatif, lekat sekali dengan anarkis, brutal, merugikan, bikin macet jalan, dan lain sebagainya. Yang pasti di mata orang tua demonstrasi mahasiswa membuat jantungnya berdegub deg-degan keras apabila tau anaknya adalah salah seorang diantaranya. Takut hal buruk terjadi pada anaknya yang sedang belajar di bangku perguruan tinggi itu. Bagi pemakai kendaraan, demonstrasi menjadi momok yang mengesalkan, karena sering kali membuat lalu lintas terganggu dan atau macet. Dan tentu pula bagi masyarakat sekitar tempat dilakukannya demo, khawatir aksi yang dilakukan ricuh dan berakhir dengan rusaknya beberapa fasilitas umum bahkan mungkin fasilitas milik pribadi masyarakat. Dan mungkin masih banyak lagi pihak yang menganggap demonstrasi mahasiswa sebagai momok yang tak ingin terjadi.


 
 4.2) PERANAN PEMUDA/I DI MASYARAKAT

Telah kita ketahui bahwa pemuda atau generasi muda merupakan konsep-konsep yang selalu dikaitkan dengan masalah nilai. hal ini merupakan pengertian idiologis dan kultural daripada pengertian ini. Di dalam masyarakat pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya karma pemuda sebagai harapan bangsa dapat diartikan bahwa siapa yang menguasai pemuda akan menguasai masa depan.

Ada beberapa kedudukan pemuda dalam pertanggung jawabannya atas tatanan masyarakat, antara lain:
a. Kemurnian idealismenya
b. Keberanian dan Keterbukaanya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan-gagasan yang baru
c. Semangat pengabdiannya
d. Sepontanitas dan dinamikanya
e. Inovasi dan kreativitasnya
f. Keinginan untuk segera mewujudkan gagasan-gagasan baru
g. Keteguhan janjinya dan keinginan untuk menampilkan sikap dan keperibadiannya yang mandiri
h. Masih langkanya pengalaman-pengalaman yang dapat merelevansikan pendapat, sikap dan tindakanya dengan kenyataan yang ada.

Generasi pemuda lingkungan masyarakat pada saat ini sangatlah minim . pada generasi dahulu pemuda lebih menetapkan pada bangsa , akan tetapi pada masa kini pemuda lebih mengikuti jaman masa kini .bisa kita lihat pemuda-pemuda pada masa kini tidak menyosongkan masa depanya lebih baik , malah menghancurkannya . contohnya : pemuda jaman sekarang lebih memilihih untuk bersenang-senang saja tanpa harus memikirkan bagaimana nantinya. Pemuda masa kini lebih menyepatkan hanya bermain jaringan sosial ketimbang ia harus berkumpul dalam acara karang taruna dalam lingkungan masyarakat. Padahal karang taruandalam masyrakat sangatlah berguna .karang taruna sendiri memiliki pengertian sebagai sebuah organisasi non-partisan yang memiliki tugas-tugas pokok pemerintah atau masyarakat lainya yang menanggulangi masalah sosial khususnya dalam generasi pemuda.

Masalah- masalah yang terdapat dalam generasi pemuda :
Masalah pemuda merupakan masalah yang abadi dan selalu dialami oleh setiap generasi dalam hubungannya dengan generasi yang lebih tua. Masalah-masalah pemuda ini disebakan karena sebagai akibat dari proses pendewasaan seseorang, penyusuan diri dengan situasi yang baru dan timbulah harapan setiap pemuda karena akan mempunyai masa depan yang baik daripada orang tuanya. Proses perubahan itu terjadi secara lambat dan teratur (evolusi)
Sebagian besar pemuda mengalami pendidikan yang lebih daripada orang tuanya. Orang tua sebagai peer group yang memberikan bimbingan, pengarahan, karena merupakan norma-norma masyarakat, sehingga dapat dipergunakan dalam hidupnya. Banyak sekali masalah yang tidak terpecahkan karena kejadian yang menimpa mereka belum pernah dialami dan diuangkapkannya.Dewasa ini umum dikemukakan bahwa secara biologis dan politis serta fisik seorang pemuda sudah dewasa akan tetapi secara ekonomis, psikologis masih kurang dewasa. Contohnya seperti pemuda-pemuda yang sudah menikah, mempunyai keluarga, menikmati hak politiknya sebagai warga Negara tapi dalam segi ekonominya masih tergantung kepada orang tuanya.
  1. Pemuda pada jaman sekarang menetapkan pada pergaulan bebas. Dimanabisa kita lihat bahwa banyak sekali para pemuda yang menggunakan narkoba dan kata ini sudah tidak asih lagi . selain itu bisa kita lihat juga pemuda jaman sekarang sudah menjadi perokok padahal usianya belum mencukupi boleh di bilang masi di bawah umur . atau seorang pemuda yang menjadi seorang peminum . peminum sebuah alkohol dan menjadi kebiasaan tertentu.
  2. Prilaku yang menyimpang , pemuda yang berilaku seperti ini sangat negativ contohnya : tauran .pemuda pada masa saat ini sering sekali tauran , tauran sudah tidak asing lagi bagi kalangan masyrakat padahal hal ini sangat merugikan pemuda itu sendiri . tauram biasanya dilakukan oleh pemuda antara sekolah ia dan sekolah lain , atau antara warga ia dengan warga lain . pemuda yangdi bawah umur , misalkan anak SD , SMP sudah melakukan hal ini . tauran ini merupakan hal yang kurangnya suatu komunikasi atau informasi. 
  3. Pernikahan di usia muda . pemuda menikah di usia muda menyebabkan yang seharusnya pendidikan berjalan dan ini harus menikah dan menghidupi anak dan istrinya. Biasanya pernikahan usia muda ini karna terjadinya seks bebas. Dan sebagiannya



Peranan pemuda dalam masyarakat dibedakan atas dua hal :
a. Peranan pemuda yang didasarkan atas usaha pemuda untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan :
- Pemuda meneruskan tradisi dan mendukung tradisi
- Pemuda yang menyesuaikan diri dengan golongan yang berusaha mengubah tradisi.

b. Peranan pemuda yang menolak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya dibedakan menjadi :
- Jenis pemuda pembangkit, yaitu pengurai atau pembuka kejelasan dari suatu masalah sosial. Contoh sastrawan Rendra dan Chairil anwar pada masanya.
- Jenis pemuda nakal/ delinkuen, yaitu jenis pemuda yang tidak berniat mengadakan perubahan pada budaya maupun masyarakat tetapi hanya berusaha memperoleh manfaat dari masyarakat dengan tindakan menguntungkan bagi diri sendiri.
- Jenis pemuda radikal, yaitu mereka yang berkeinginan besar mengubah masyarakat dan kebudayaan lewat cara-cara radikal, revolusioner tanpa memikirkan lebih jauh bagaimana selanjutnya. 

KESIMPULAN

Pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan Negara bangsa dan agama. Selain itu pemuda/mahasiswa mempunyai peran sebagai pendekar intelektual dan sebagai pendekar social yaitu bahwa para pemuda selain mempunyai ide-ide atau gagasan yang perlu dikembangkan selain itu juga berperan sebagai perubah Negara dan bangsa ini. Oleh siapa lagi kalau bukan oleh generasi selanjutnya maka dari itu para pemuda harus memnpunyai ilmu yang tinggi dengan cara sekolah atau dengan yang lainnya, dengan begitu bangsa ini.
Jika dibandingkan dengan generasi sebelum dan generasi berikutnya, setiap generasi memiliki cirri-ciri khas corak atau watak pergerakan / perjuangan. Sehubungan dengan itu, sejak kebangkitan Nasional, di Indonesia pernah tumbuh dan berkembang tiga generasi yaitu generasi 20-an generasi 45 dan generasi 66 dengan masing-masing ciri khasnya.

Kamis, 20 Juni 2013

V-class Pengelolaan Proyek Sist.Informasi -04 Post Test Estimasi

TEKNIK YANG DIGUNAKAN UNTUK MELAKUKAN ESTIMASI

Ada 3 (tiga) teknik yang digunakan untuk melakukan estimasi, yaitu : keputusan
profesional, sejarah dan rumus-rumus.
  • Keputusan Profesional
Katakanlah, bahwa Anda merupakan orang yang memiliki pengalaman yang luas dalam memprogram “report generation modules”. Anda melakukannya dengan pendekatan design report tersebut dan memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat program tersebut. Setelah mempelajari desaign program selama 5 menit, programer lalu menutup matanya selama 5 menit (Dia tidak tidur, tetapi berhitung), dan kemudian mengatakan “15 hari”. Inilah yang disebut dengan Keputusan Profesional murni. Keuntungan dari teknik ini adalah cepat, dan jika seseorang sudah ahli dalam teknik ini, maka estimasinya pasti akan lebih akurat.
Sedangkan kerugian dari teknik ini yaitu bahwa Anda membutuhkan seorang ahli yang berpengalaman dalam bidang ini dan biasanya beberapa ahli tersebut akan bekerja keras untuk mendapatkan estimasi yang tepat. Lagi pula, estimasi yang didapat adalah untuk jangka waktu yang lama dan ini harus dikerjakan oleh seorang ahli. Hal ini tidak dapat tergantung hanya pada ahli tersebut, jika yang lain ingin mengerjakannya tidak menjadi masalah. Tapi, hal ini sangat berbahaya jika mempercayakannya kepada seseorang yang memiliki sedikit pengetahuan dalam bidang ini.
  • Sejarah
Jalan keluar dari ketergantungan pada orang dan untuk membuat estimasi lebih khusus yaitu Anda harrus mengerti tentang sejarahnya. Tulislah berapa lama masing-masing tugas dapat diselesaikan dan siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut. Anda dapat membandingkan tugas yang akan di estimasi dengan tugas yang sama yang dikerjakan lebih awal, setelah itu mulailah dengan melakukan estimasi. Hal ini dimaksudkan agar Anda menjabarkan suatu proyek ke dalam beberapa tugas yang biasanya diulang dan mudah untuk dibandingkan. Untuk memprogramnya, mungkin generasi dalam bentuk formulir input, sebuah laporan, perhitungan rumus-rumus, dan lain-lain. Perusahaan atau departemen akan membuat tipe proyek yang sama. Carilah dasar untuk membangun “blocks” dan dokumen yang dibutuhkannya. Jika Anda sangat intelligent, lakukan langkah pertama dan bangunlah blocks tersebut dalam bentuk yang siap pakai. Anda dapat menduga bahwa sebuah penggunaan ulang ternyata lebih akurat jika dibandingkan dengan penulisan ulang. Dalam membandingkan satu apel dengan apel yang lainnya, Anda harus menuliskan perbedaannya. Catatan statistik dari IBM dan DEC memperlihatkan bahwa kemungkinan perbandingan antara produksi komputer yang baik dengan yang buruk adalah sebesar 8 : 1.
  • Rumus-rumus
Ada beberapa rumus yang digunakan dalam software estimasi. Sotfware yang baik untuk diketahui yaitu COCOMO (referensi 15). COCOMO dapat digunakan untuk memperkirakan biaya proyek, usaha (person months), jadwal (months) dan staf (number of staff) untuk masingmasing fase berikut ini :

Preliminary Design - our Analysis Phase
Detailed Desaign (DD) - our Design Phase
Code and Unit test (CUT) - same as ours
System Test - our System Test and Acceptance P

V-class Pengelolaan Proyek Sist.Informasi -03 Pre Test Estimasi

Apakah yang dimaksud dengan 'ESTIMASI'?

Estimasi merupakan suatu metode dimana kita dapat memperkirakan nilai Populasi dengan memakai nilai   sampel. Estimator adalah Nilai Penduga/ suatu statistik (median, modus, rerata, varian, deviasi standard, proporsi dll.) sampel yang digunakan untuk mengestimasi suatu parameter (median, modus, rerata, varian, deviasi standard, proporsi dll.) populasi. Contoh:  rerata sampel menjadi estimator untuk rerata populasi. Misal, rerata tinggi 100 mahasiswa Poltekkes menjadi estimator untuk rerata tinggi keseluruhan mahasiswa Poltekkes .Proporsi sampel menjadi estimator untuk proporsi populasinya.


Contoh estimasi biaya perangkat lunak:
Sebuah proyek dikatakan berhasil apabila sistem tersebut bisa diserahkan tepat waktu, sesuai antara biaya dan kualitas yang diinginkan. Hal tersebut menandakan bahwa apa yang ditargetkan manajer proyek telah bisa dicapat. Meski target yang dibuat manajer proyek masuk akal, tapi tidak memperhitungkan catatan level produktivitas timnya, kemungkinan tidak akan bisa memenuhi deadline dikarenakan estimasi awal yang salah. Oleh karenanya, perkiraan yang realistik menjadi kebutuhan yang sangat krusial bagi seorang manajer proyek.   Beberapa kendala estimasi sangat dipengaruhi oleh karakteristik perangkat lunak (software), khususnya kompleksitas dan hal-hal lain yang tidak kasat mata. Juga kegiatan SDM yang terlibat dalam pengembangan sistem tidak bisa diperhitungkan secara pasti dengan menggunakan cara-cara yang mekanistik. Belum lagi kesulitan lain yang menghalangi keberhasilan proyek perangkat lunak.

Estimator: setiap statistik (mean sampel,varians sampel) yang digunakan untuk mengestimasi sebuah parameter haruslah meliputi kriteria di bawah ini:
• Estimator tak bias
• Estimator konsisten
• Estimator terbaik
Sedangkan Estimate adalah nilai (value) tertentu dari estimator.Misal, rerata tinggi 100 mahasiswa Poltekkes Bandung menjadi estimator untuk rerata tinggi keseluruhan mahasiswa Poltekkes Bandung. Jika diketahui melalui pengukuran bahwa rerata tinggi 100 orang mahasiswa Poltekkes Bandung  adalah 170 cm, maka dapat dikatakan bahwa rerata tinggi umumnya mahasiswa Poltekkes Bandung sekitar 170 cm. Angka 170 itu yang kita sebut Estimate

Jenis-jenis Estimasi
1. Estimasi Titik (Point estimation)
    adalah suatu nilai(suatu titik)yang digunakan untuk menduga suatu parameter populasi.
2 .Estimasi Interval (Interval estimation)
   adalah suatu interval yang menyatakan selang dimana suatu parameter populasi mungkin berada

Kamis, 09 Mei 2013

Tulisan Sofkill Ilmu Budaya Dasar

PERANG BUBAT

1.    Pendahuluan
Apakah  “Perang Bubat“ peristiwa sejarah?  Perang itu dinyatakan terjadi tahun 1357 Masehi.
Sekuranng-kurangnya  ada 3 sumber  tua  penting  yang  mencari  takan  adanya  peristiwa  tersebut. Yakni  Kidung   Sunda  dan  Pararaton  yang  berbahasa  Jawa  lama, dan  cerita  Parahiyangan  yang  berbahasa  Sunda  lama.  Akhir-akhir  ini muncul  naskah  pangeran  Wangsakarta  dari  Cirbon  yang  berbahasa  jawa  lama  yang  juga  menyambut  adanya  peristiwa  Bubat.
Menilik  sumber-sumber  tua  yang  berasal  dari  tua  masyarakat  yang  terlibat  dalam  perang Bubat  (Sunda  dan  Majapahit) yang  kemungkinan besar  tidak  saling  berhubungan,  maka dapat di tafsirkan  bahwa  perang bubat  merupakan peristiwa sejarah, karena kedua masyarakat masih memiliki kenangan peristiwa tersebut, meskipun sumber-sumber tertulis itu berasal dari  abad  16, sedangkan dari peristiwanya sendiri  pada tahun  1357, abat 14. Jadi ada selisih sekitar dua abat antara peristiwa dan tuturan. Ingatan  kolektif  peristiwa  tersebut masih cukup kuat  dalam tradisi sastra kedua masyarakat.
Peristiwa sendiri agak aneh kalau di sebut  “Perang“, meskipun  melibatkan dua Negara dan dua Raja. Makna  “ Perang“ sebagai  “Pertempuran“ memang benar, dan itu terjadi  di lapangan Bubat yang agak jauh dari Ibu Kota Majapahit, tetapi arti “Perang“, yang melibatkan dua pasukan kerajaan dengan persiapan kedua belah fihak yang seimbang tidak terjadi. Perang itu melibatkan rombongan pengantin yang tiba-tiba dipaksa untuk memilih hidup tetapi takluk atau perang yang pasti akan binasa. Yang menggetarkan para penbacanya adalah kekaguman terhada Raja Sunda dan para pengiringnya yang memilih gugur dalam membela kehormatan bangsa dan negara.
Dengan demikian yang terjadi semacam  “pembantaian“ yang bahkan dalam Kidung Sunda dikisahkan “ditonton“ oleh rakyat Majapahit. Sebuah cerita sejarah yang pahit yang sampai sekarang masih terasa sebagai “luka kolektif”. Peristiwa historis ini menerbitkan kebimbangan akan kebenaran historisnya karena penuturannya yang tidak sesuai dengan data-data historis, terutama dalam Kidung Sunda. Bahkan Negarakertagama yang diakui sebagai sumber sejarah otentik dan sahih, tidak menyebutkan peristiwa itu.
Apakah peristiwa itu sebuah fakta sejarah atau sekadar fiksi tidak begitu penting. Fakta atau fiksi yang penting sudah menjadi ingatan kolektif yang membawa dampak atau akibat pada sikap masyarakat. Disini kita saksikan betapa besar pengaruh karya sastra terhadap kehidupan manusia.
Dengan mendengarkan atau membaca karya Kidung Sunda, orang-orang mengalami melalui cerita (fiksi atau fakta). Karena mengalami ia mengerti dan memahami, dan pemahaman pikiran ini dapat membentuk kepercayaan. Fiksi atau fakta sejarah penting masyarakat sudah mempercayainya dan kepercayaan itu dengan sendirinya menentukan sikap terhadap tindakan-tindakannya.
“Semua perbuatan didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran dan dihasilkan oleh pikiran” (Syair Kembar, Dharmapada). Juga Chandogya Upanishad menyatakan: “jika seseorang percaya, ia akan melihat. Orang tidak percaya tidak akan melihat. Hanya dia yang percaya akan melihat (kebenaran itu”. Bagaimanapun upaya para ahli sejarah untuk “meluruskan” Perang Bubat, karena peristiwa itu telah menjadi kepercayaan kolektif, maka sindrom ini nampaknya masih akan bertahan.
Jadi, mana yang lebih penting, kisah sejarah yang seobyektif-obtektifnya tetapi tidak menjadi sikap social, atau kisah fiksi yang sesubyektif-subyektifnya namun dipercayai sebagai dasar sikap sosialnya? Kadang fiksi murni justru amat berdampak dalam menentukan sikap hidup subyektif maupun kolektif.
2.    Kidung Sunda
Pada tahun 1980 diterbitkan Kidung Sunda terjemahan Hasan Wirasutisna, dalam bahasa Indonesia, dari naskah Kidung Sunda dalam bahasa Sunda, dengan keterangan “beunang nyalin tina basa Kawi lalakon alam Majapahit”. Pada akhir buku itu disebut tahun  penulisannya :
Dangdanggula
Kidung Sunda cerita dahulu
Hari Senin selesai ditulis
Pada pasaran Keliwon
Wukunya Kuruwelut
Tanggal tujuh awal bulan
Kebetulan bulan Magha
Bula kesepuluh
Dalam hitungan Saka
Tepat seribu delapan ratus
Mohon beribu maaf.
Tahun Saka 1800 sama dengan tahun 1878 Masehi. Tidak jelas apakah naskah berbahasa Sunda sekarang itu berupa bukuk cetak atau masih naskah tulis tangan berbentuk wawacan.
Pernyataan bahasa Kidung Sunda ini selain dari bahasa Kawi, rupanya naskah inilah yang berpengaruh besar dalam membangun ingatan dan pikiran kolektif masyarakatnya.    P.J. Zoetmulder mengomentari kidung ini sebagai “Kidung historis yang paling pendek, juga paling menarik bagi orang pembaca modern”.
Penceritaannya memang mirip novel hanya dalam bentuk puisi tembang kidung. Raja Hayam Wuruk yang masih muda mengutus patih muda melamar putri Maharaja di Galuh, Dyah Pitaloka, setelah melihat gambar putri tersebut yang dilukis pelukis keraton, Arya Prabangkara. Patih Muda menyatakan bahwa sang puteri akan menjadi permaisuri Hayam Wuruk. Sang puteri tunduk menerima keputusan kedua orang tuanya. Maharaja Sunda bersyukur kepada Yang Esa karena mendapat anugerah puterinya diambil sebagai permaisuri raja agung Majapahit yang menguasai tujuh raja di Pulau Jawa.
Raja Galuh memimpin rombongan pengantin perempuan menuju majapahit. Ketika tiba di pesisir dari pedalaman Galuh, raja tercenung menyaksikan laut berwarna merah darah dan gagak-gagak melayang-layang bertetesan darah ke laut. Raja menangkap sasmita bakal datangnya malapetaka, meskipun demikian ia menerima takdir dan menghapus wajah cemas di depan puteri dan permaisurinya. Rombongan berlayar ke Majapahit dalam 200 kapal yang diiringi 1500 lebih perahu Madura. Rombongan terdepan adalah perahu para senapati dan tentara kerajaan, disusul rombongan kapal raja yang megah seperti jung Tartar. Kemudian menyusul rombongan para ponggawa dan bangsawan, dan akhirnya rombongan kapal dan perahu yang memuat barang-barang bawaan berupa kendaraan, hewan-hewan, panji-panji, senjata dan gamelan Sunda.
Perjalanan berlangsung 10 hari. Memasuki pedalaman dari pelabuhan Ujung Galuh menyusuri sungai dan sampai di Bubat menunggu jemputan dari raja Hayam Wuruk, Setelah kapal dan perahu ditambatkan di Canggu, Raja Hayam Wuruk bersama Prabu Daha dan Prabu Tua bersuka cita mendengar laporan Lurah Bubat atas kedatangan Maharaja Sunda dengan selamat. Tetapi raut Patih Gajah Mada kecut karena tidak menyetujui kehendak raja memperisteri puteri Galuh.
Patih Gajah Mada mengusulkan kepada raja Hayam Wuruk agar menunda pertemuannya dengan raja Sunda sekitar 4 atau 5 malam lagi untuk merenungkan kembali keputusan raja mempersunting puteri Dyah Pitaloka. Gajah Mada memberi pertimbangan bahwa wibawa dan keagungan raja serta kerajaan Majapahit akan turun di mata raja-raja Pulau Jawa dan Nusantara apabila perkawinan dilangsungkan. Bagaimana mungkin raja agung Majapahit mengagung-agungkan raja Galuh di kratonnya sendiri. Kata-kata Gajah Mada termakan oleh raja yang masih muda itu. Sejak itu Hayam Wuruk menghentikan para bawahannya untuk mengirim persembahan-persembahan kepada raja Sunda di Bubat.
Berkembang kebimbangan di fihak Sunda setelah tersebar desas-desus perbuatan Gajah Mada terhadap rajanya. Diutuslah Anepaken, patih Raja, Pitar, patih putri Citraresmi. Panglima Barong dan Demang Caho diiringi 300 prajurit pilihan dengan pakaian terbagusnya menghadap Gajah Mada di kediamannya untuk mengetahui duduk perkara penundaan. Mereka berjalan ke selatan melalui Masjid Agung lalu belok ke timur kemudian ke selatan menuju kediaman patih Majapahit. Tiba di gerbang pertama mereka langsung masuk dan menunggu di bawah pohon-pohon angsoka.
Dari halaman itu mereka melihat Gajah Mada sedang rapat dengan para tetua Negara yang berpengalaman, Gajah Mada melihat kehadiran mereka tetapi diabaikannya. Yang di bicarakan tentang “kedatangan Raja Sunda bukan perbuatan wajar karna tak berbakti“.
Para utusan Sunda jengkel dan marah atas perlakuan ini dan tanpa dipersilahkan mereka memasuki gerbang kedua dimana “gedung batu” tempat Gajah Mada dan para menteri sedang berembuk. Dengan sinis Gajah Mada menegur patih Anapaken sebagai tak mengerti tatakrama. Terjadi pertengkaran sengit antara kedua patih. Inti perdebatan tentang adanya tradisi raja-raja Nusantara yang datang ke Majapahit membawa persembahan-persembahan termasuk putri untuk raja. Pembesar-pembesar Sunda segera menjawab bahwa Ratu Sunda tak perlu bersujud sebab bukan taklukannya. Kapan kalah perang? Gajah Mada bahkan diingatkan pernah mundur dipukul tentara Sunda. Pertengkaran yang semakin memanas berhasil didamaikan oleh pendeta Asmaranatha, supaya utusan Sunda menunggu utusan Majapahit ke rumah Raja Sunda, sekitar dua hari lagi.
Kisah selanjutnya sudah amat kita kenal, yakni terjadinya perang Bubat akibat keinginan Gajah Mada menjadi keputusan Negara. Raja dan para pembesar Sunda sepakat untuk menjaga kehormatan diri sampai mati di medan laga. Pertempuran terjadi di lapangan Bubat saja sehingga rakyat Majapahit menyaksikan apa yang terjadi di lapangan tersebut. Raja dan para pembesar Sunda bertempur dengan gagah berani melawan kepungan pembesar-pembesar Majapahit. Dalam hal ini Zoetmulder berkomentar bahwa “pantas dicacat bahwa simpati pengarang terletak pada pihak Sunda”. Kidung itu sendiri menyatakan bahwa “kelak anak cucu Sunda menyayikan keberanian yuda para satria Sunda”.
Para istri pembesar-pembesar Sunda, yang berkemah terpisah di bagian perempuan,
berbaris menuju medan laga dan mencari jenazah suami-suami mereka lalu melakukan bela pati. Permaisuri dan putri Citraresmi Dyah Pitaloka juga bela pati di perkemahannya, perempuan-perempuan lain di jadikan tawanan.
Sebagian besar kidung berisi kisah pertempuran Bubat ini dengan detil, baik dari fihak Majapahit maupun Sunda. Hanya seorang pembesar yang selamat dari perang ini, yakni patih putri, Pitar, yang menjadi tahanan Majapahit.
Raja Hayam Wuruk datang ke bekas medan perang dan berusaha mencari calon mempelainya yang ternyata tak terdapat disitu. Timbul harapannya untuk menemukan Dyah Pitaloka masih hidup, lalu menuju perkemahan perempuan. Dan disana didapatinya putri Galuh ini telah bela pati. Raja amat berduka mendalam. Raja memerintahkan untuk menyelenggarakan upacara Negara memperabukan calon istri dan kedua bakal mertuanya.
Raja marah terhadap Gajah Mada dan memerintahkan menangkap dan menghukumnya. Tapi Gajah Mada moksa kembali menjadi Dewa. Raja Hayam Wuruk sendiri tak mampu melepaskan dukanya atas peristiwa tragis ini dan tak lama kemudian wafat.
Penulis Kidung Sunda melihat peristiwa historis yang menyedihkan ini, yang disesalinya, sekitar 200 tahun kemudian sebagai takdir dari Yang Esa. Digambarkan bahwa ketika hendak berlayar ke Majapahit, Maharaja Sunda sudah menangkap firasat akan adanya pertumpahan darah di akhir pelayaran ini, namun beliau menerima takdir itu. Digambarkan pula bahwa Gajah Mada tidak berhasil ditangkap dan dihukum raja  karena terlebih dahulu telah lenyap moksa bersama raganya kembali menjadi Wisnu. Digambarkan pula bahwa Hayam Wuruk wafat akibat menderita duka mendalam ditinggalkan calon permaisurinya. Dalam telaah sejarah raja Hayam Wuruk masih memerintah lama di Majapahit dan mendapatkan permaisurinya dari lingkungan kerabat Majapahit sendiri.
Pandangan strukturalis-determinis ini kuat dalam Kidung Sunda. Nasib baik dan buruk itu telah ditentukan dan harus diterima dengan legawa.
3.    Carita Parahiyangan
Inilah naskah Sunda lama yang berasal dari daerah Galuh, yang kemudian ditulis atau disalin pada akhir abad 16 atau awal abad 17, ketika agama Islam telah masuk ke Jawa Barat. Naskah baru menarik perhatian para orientalis sekitar tahun 1881. Namun baru tahun 1962 Noorduyn berhasil menyusunnya sebagai karya utuh yang terstruktur.
Carita Parahiyangan ternyata menyebutkan peristiwa Perang Bubat juga tetapi dalam baris-baris kalimat amat ringkas, yaitu dalam bab XVIII yang berbunyi sebagai berikut :
(Aki Kolot) Berputera Prabu Maharaja
Menajdi raja selama 7 tahun
Karena terkena perbuatan khianat
Mendapat bencana oleh puterinya bernama Tohaan
Ia menginginkan emas kawin  yang besar
Itulah sebabnya banyak orang pergi ke Jawa
Tidak mau bersuami di Sunda
Maka terjadilah perang di Majapahit
(terjemahan Atja, Saleh Danasasmita)
Hal ini menunjukan bahwa peristiwa Bubat bukan hanya dikenal masyarakat Jawa       (Timur) tetapi juga di Sunda sendiri. Isi ceritanya juga sesuai dengan Kidung Sunda. Prabu Maharaja membawa puterinya ke Majapahit untuk dinikahkan dengan “emas kawin yang besar” yang taklain adalah dengan raja Majapahit itu sendiri. Tetapi mereka “terkena perbuatan khianat” yang tak lain ulah mahapatih Gajah Mada, sehingga terjadilah perang di Majapahit.
Yang menarik adalah rangkaian kata-kata “menginginkan emas kawin yang besar
”dan tidak mau bersuami di Sunda”. Terasa ada nada kritik dan penyelenggaraan yang cenderung menyalahkan. Namun semua itu terjadi akibat “terkena perbuatan khianat”. Kalau tidak terjadi pengkhianatan semacam itu tentulah tidak masalah kalau puteri Tohaan memperoleh emas kawin yang besar dan bersuami bukan di Sunda.
Perbuatan khianat dalam cerita parahiyangan kiranya jelas sasarannya seperti dikisahkan dalam Kidung Sunda, yakni patih Gajah Mada. Namun pengkhianatan ini “diampuni” dalam Kidung sunda karena dilakukan oleh Gajah Mada alias ki Lembu Muksa, titisan Batara Wisnu, sebagai pelaku eksekusi takdir. Dalam Kidung Sunda tidak berlaku hukum sebab-akibat itu nampaknya berlaku. Karena bertingkah laku “tidak baik” maka terjadi pengkhianatan dan masa pemerintahan prabu Maharaja juga pendek yakni 7 tahun saja. Dalam cerita parahiyangan para raja yang senantiasa berbuat baik slalau disebut bersama pemerintahan panjang, bahkan ada yang 104 tahun.
Kalau Kidung Sunda yang di tulis dalam bahasa jawa lama dibaca dari sudut pandang Cerita parahiyangan, maka perbuatan khianat Gajah Mada ini tentu akan menanggung hokum karma ( sebab-sebab ) yang jauh lebih berat dari pada “hukuman” perang di majapahit yang menewaskan hampir seluruh rombongan raja Sunda, hanya karena kesalahan “menginginkan emas kawin yang besar” dan “tidak mau bersuami Sunda”.
Dalam hukum takdir (determinisme) kidung Sunda, salah dan benar itu tidak membawa akibat hukuman atau berkat. Manusia yang berbuat baik dapat mengalami nasib buruk, sendang manusia jahat mungkin saja menemukan nasib yang menyenangkan. Mengapa terjadi ketidak adilandewata semacam itu ? karena si baik yang bernasib buruk menanggung beban atas dosa-dosanya dalam inkarnasi sebelumnya, begitu pula sebaliknya. Hukuman dan berkat itu ditentukan oleh rangkaian samsara atau kelahiran kembali dalam sistem kepercayaan Kidung Sunda, sedang hukuman dan berkat terjadi selama kehidupan yang hanya sekali ini saja dalam cerita parahiyangan.
Dengan demikian peristiwa yang sama dapat menimbulkan dua penilaian yang berbeda.
4.    Pararaton
Naskah dari jawa timur ini juga berbahasa jawa lama (Kawi) dan memuat cerita ringkas tentang peristiwa Bubat yang disebutnya “peristiwa orang-orang Sunda di Bubat”. Salinannya sebagai berikut :
Bab X:
“Selanjutnya terjadi peristiwa orang-orang Sunda di Bubat. Sri Baginda prabu menginginkan puteri Sunda. Patih Madu mendapat perintah menyampaikan permintaan kepada orang Sunda. Orang Sunda tidak berkeberatan mengadakan pertalian perkawinan. Raja Sunda datang ke Majapahit, dialah sang Baginda Maharaja, tetapi ia tidak mempersembahkan putrinya. Orang sunda bertekad berperang.
Itulah sikap yang sudah mendapat sepakat, karena patih Majapahit keberatan jika perkawinan dilakukan secara perayaan resmi, kehendaknya ialah agar puteri Sunda itu di jadikan persembahan. Orang sunda tidak setuju. Gajah Mada melaporkan sikap orang Sunda.
Baginda Wengker menyatakan kesanggupan :
Jangan khawatir kakanda Baginda, sayalah yang akan melawan berperang. Gajah Mada memberi tahu tentang sikap orang Sunda. Lalu orang majapahit berkumpul, mengepung orang Sunda. Orang Sunda akan mempersembahkan puteri raja, tetapi tidak di perkenankan Oleh bangsawan-bangsawannya, mereka ini sanggup gugur di medan perang di Bubat, tak akan menyerah, akan mempertarukan darahnya. Kesanggupan bangsawan-bangsawan itu akan mengalirkan darah.
Para terkemuka fihak Sunda yang bersemat adalah :
Larang Agung, Tuhan ( Tuan ) Sohan, Tuhan Gempong, Panji Melaong, orang-orang
Tobang-Barang, Rangga Cahot, Tuhan Usus, Tuhan Sohan,orang pengulu, orang saya, Rangga Kawani, orang siring, Satrajali, Jagatsaya, semua rakyat Sunda bersama-sama bersorak. Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak seperti guruh. Sang Prabu Maharaja mendahului gugur, jatuh bersama-sama Tuhan Usus.
Sri Baginda rameswari menuju ke Bubat, ia tidak tahu bahwa orang-orang Sunda masih banyak yang belum gugur. Bangsawan-bangsawan mereka yang termuka lalu menyerang, orang Majapahit rusak. Adapun yang mengadakan perlawanan dan melalakukan pembalasan ialah Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Margaleuwih, Patih Tetag, dan Jaranbaya. Semua menteri itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dank e barat, menuju ke tempat Gajah Mada. Masing-masing orang sunda yang sampai di muka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung,hancurlah orang-orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, padatahun Saka “ Sembilan kuda Sayap Bumi” 1279 (atau 1357 Masehi ). Peristiwa Sunda itu bersama-sama dengan peristiwa Dompo. Sekarang Gajag Mada menikmati istirahat. Sebelas tahun imenjadi Mangkubumi.
Berhubung dengan puteri Sunda itu tewas, maka batara prabu lalu kawin dengan anak perempuan Baginda Prameswara, ialah Paduka Sori. Dari perkawinan ini lahirlah anak perempuan, ialah Ratu Lasem sang Ayu. Perkawinannya yang lain lahirlah Baginda di Wirabumi, yang diambil menjadi anak angkat Sri Ratu di Daha”.
Pararaton membenarkan adanya perang Bubat Gajah Mada di balik peristiwa ini. Yang baru dan agak berbeda disini adalah pernyataan adanya keinginan untuk menyarankan puteri Sunda sebagai persembahan kepada Majapahit, namun di tentang karas oleh para bangsawan tinggi Sunda-Galuh. Mereka siap gugur untuk mempertahankan harga dirinya yang direndahkan. Tahun peristiwa perang Bubat juga disebut.
Berbeda dengan Kidung Sunda, Pararaton agak berfihsk pada Gajah Mada yang “menikmati masa istirahat menjadi mangkubumi selama 11 tahun” di Majapahit, yang mengandung arti bahwa perang Bubat merupakan usaha Gajah Mada terakhir dan mungkin terberat menaklukkan raja-raja  Nusantara dibawah Majapahit.

5.    Pustaka Nusantara 11 / 2
Pada tahun 1972 terbit Carita Purwaka Caruban Nagari karya pangeran Arya Cirebon yang tulis tahun 1720. Buku itu menyatakan mengambil sumbernya dari naskah yang lebih tua yakni Negarakretabhumi yang di susun oleh panitia sejaraj Cirbon sekitar tahun 1677 dibawah pangeran Wangsakerta, yakni Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara dan
Pusaka Pararatwan.
Berapa naskah tersebut pernah di terbitkan pada tahun 1980-an dan di seminarkan tahun 1988 yang ternyata menimbulkan kontroversi di kalangan sejarahwan. Lepas dari kontroversi yang ada, naskah-naskah itu merupakan manifestasi pikiran yang diakui oleh masyarakatnya atau segolongan masyarakatnya. Masalahnya apakah kisah-kisah dalam naskah itu mengubah sikap masyarakat terhadap hidup ini. Sekalipun itu fiksi, masih berharga untuk mengetahui pandangan masyarakat mengenai Perang Bubat.
Karena isi kisah Perang Bubat telah di paparkan lengkap dalam Kidung Sunda, maka disini hanya dikutipkan bagian-bagian penting yang berbeda.
Inilah bagian-bagian tersebut :
“Sesungguhnya dahulu, waktu datang ke Kawali, duta Bhre Prabu Majapahit sudah menjajikan bahwa sang puteri Citraresmi akan diperistari resmi oleh Bhre Prabu Majapahit dan dijadikan permaisurinya. Tetapi sekarang janji tersebut tidak ditepatinya, ia bahkan ingin menguasai negeri Sunda di Jawa Barat. Sesungguhnya hal itu hanya ulah dan kehendak sang Patih Mada, dan sang prabu selalu menyetujui keinginannya. Semua orang mengetahui bahwa yang menyakiti hati orang Sunda adalah Sang Patih Mada… Lalu berkumpullah orang-orang Sunda di tempat Sang Prabu Maharaja. Mereka bermusyawarah dan sepakat menyongsong musuh. Sang Prabu Maharaja dan para pengiringnya tidak sudi dihinakan dan diperintah oleh raja Majapahit. Kemudian sang Prabu Maharaja berucap kepada semua pengiringnya… Beginilah ujarnya : Walaupun darah akan mengalir bagaikan sungai di medan Bubat ini, namun kehormatanku dan semua ksatria Sunda tidak akan memberikan pengkhianatan terhadap Negara dan rakyatku. Karena itu janganlah bimbang semua mayat yang sudah dimandisucikan dengan penuh kebesaran diperabukan diatas tumpukan kayu cendana yang wangi. Sang Prabu Hayam Wuruk mengawali penyempurnaan mayat puteri Dyah Pitaloka dan mayat Prabu Maharaja Sunda. Sedangkan penyempurnaan mayat-mayat lainnya dilakukan oleh Sang Patih Mada. Para menteri agung, para pemuka agama dan pembesar lainnya. Tampak ribuan penduduk dari daerah sekitarnya memenuhi lapangan itu dengan penuh rasa haru. Kelak di negeri Sunda dibuat patung pribadi Sang Prabu Maharaja. Sementara itu orang-orang Sunda tidak membalas dendam kepada orang Jawa. Mereka tidak memerangi Majapahit. Demikian pula Majapahit tidak menyerang negeri Sunda dan tidak memeranginya.
Kemudian raja Majapahit Prabu Rajasanegara mengirimkan utusan ke Negeri Sunda untuk menyampaikan surat. Diberitakan di dalamnya kejadian pasunda-bubat dan Bhre Majapahit mohon maaf atas segala kesalahan dan perbuatan yang telah dilakukan oleh para senopati dan pasukannya. Kematian Sang Prabu Maharaja itu semoga tidak membawa celaka dan melenyapkan kesentosaan hidup penduduk Majapahit.
Karena itu Raja Majapahit berjanji dengan sepenuh hati kepada wakil Raja Sunda yaitu Rakean Patih Mangkubumi Suradipati dan segenap pembesar kerajaan, angkatan perang, keluiarga raja Sunda serta penduduk di seluruh Jawa Barat, bahwa Majapahit tidak akan menyerang Negeri Sunda dan tidak ingin menguasainya. Kerajaan Sunda diharapkan tidak melakukan serangan balasan kepada Majapahit dan menganggap peristiwa Bubat itu sebagai peristiwa yang sudah lewat. Majapahit ingin bekerjasama dan bersahabat dengan Sunda, masing-masing sebagai Negara yang merdeka yang tidak bertentangan. Majapahit berjanji tidak akan menyakiti hati penduduk Negeri Sunda untuk kedua kalinya.”
Dalam naskah Wangsakerta di atas disebutukan bahwa Raja Majapahit, Hayam Wuruk, langsung meminta maaf kepada keluarga Prabu Maharaja di Sunda. Usaha rekonsiliasi kedua kerajaan segera dilakukan setelah peristiwa Bubat. Namun naskah Wangsakarta tidak menceritakan bagaimana tanggapan pihak keluarga kerajaan Sunda sendiri.
Kidung Sunda. Pararaton, dan cerita Parahiyangan tidak menyebutkan kelanjutan dari Perang Bubat, kecuali naskah Wangsakarta ini. Naskah ini dengan jelas menunjuk biang kesalahan ada pada Patih Gajah Mada, yakni “semua orang menngetahui bahwa yang menyakiti hati orang Sunda itu adalah Sang Patih Mada”. Kalau hal ini dihubung-hubungkan dengan tidak adanya nama jalan atau nama apapun di Jawa Barat dengan nama Gajah Mada atau Majapahit, mungkin ada benarnya, tetapi juga kurang adil karena belum tentu kota-kota besar lain di Indonesia tidak berbuat yang sama. Bagaimanapun naskah Wangsakarta ini membawa kesejukan tersendiri atas peristiwa sejarah yang memilukan tersebut.
6.    Sejarah Jawa Barat
Pada tahun 1984 terbitlah buku Rintisan Penelusuran Masa Silam : Sejarah Jawa Barat yang ditulis oleh Saleh Danasasmita, Yoseph Iskandar, Enoch Atmadibrata, diterbitkan Pemda Jabar.
Buku 4 jilid ini antara lain mengajukan analisis yang menarik berhubungan dengan Perang Bubat. Seperti diketahui bahwa dalam Perang Bubat Raja Sunda, Prabui Maharaja, gugur di medan perang. Pengganti beliau di Sunda-Galuh adalah puteranya yang masih usia 9 tahun, yakni Wastu Kencana, adik lelaki Puteri Dyah Pitaloka Citraresmi. Sedangkan nama Maharaja dalam Pararaton dan Carita Parahiyangan tak lain adalah Linggabuana (1350 – 1357). Karena masih kanak-kanak, maka Galuh diperintah oleh Wali Raja, adik Linggabuana, yakni Bunisora Suradipati (1357-1371). Masa pemerintahan Wastu Kencana termasuk paling panjang yakni 104 tahun, karena kebaikan dan kesempurnaan wataknya sebagai manusia dan raja.
Sejak pemerintahan panjang Wastu Kencana, Sunda semakin sejahtera dan semakin besar berwibawa yang berpuncak pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482-1521) atau dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Kenyataan ini berbalik sama sekali dengan nasib kerajaan Majapahit setelah Bubat. Meskipun puncak kejayaan Majapahit terdapat pada pemerintahan Hayam Wuruk, namun setelah dia Majapahit berangsur-angsur mengalami kemerosotan dengan perang saudara dan sebab-sebab lainnya. Bahkan ketika kerajaan Sunda mengalami jaman emasnya awal abad 16, kerajaan Majapahit justru menghadapi masa-masa keruntuhan sekitar tahun 1525 M.
Cara pandang ini mirip cerita Parahiyangan, bahwa mereka yang berwatak kurang baik akan segera berakhir kekuasaannya, bahkan hidupnya, sedang mereka yang di jalan benar dan bijak akan mengalami kesejahteraan panjang. Hukum sebab-akibat duniawi ini terlihat pada nasib kedua kerajaan setelah Perang Bubat. Majapahit  yang salah berusia pendek menuju kejatuhan, sedang Sunda yang menjadi korban berusia panjang menuju kejayaan.


7.    Para Kesatria Sunda
Dalam Pararaton disebutkan bahwa semula Sunda yang sudah dikepung Majapahit di Bubat ingin memenuhi tuntutan Gajah Mada, yakni mempersembahkan puteri Citraresmi, namun para bangsawan Sunda menolak keras penyerahan ini. Mereka bertekad bulat membela harga diri sampai titik darah penghabisan.
Siapakah para bangsawan kesatria –kesatria Sunda tersebut?
Kidung Sunda, Pararaton, dan Pustaka Nusantara (naskah Wangsakarta) menyebutkan nama-nama mereka. Dari ketiga sumber tulis tadi ternyata ada beberapa kesamaan nama, tetapi ada juga yang berbeda. Ada nama yang disebut dalam tiga sumber, yakni :
Larang Agung
Rangga Sohan atau Tuhan Sohan
Panji Melong
Jagatsaya
Demang Cahot atau Rangga Cahot
Rangga Sohan atau Tuhan Sohan atau Sohan
Adapun yang disebut dalam dua sumber (Pararaton dan Pustaka):
Tuhan Usus atau Mantri Usus
Tuhan Gempong atau Gempong Lotong
Rangga Kaweni atau rakean Rangga Kaweni
Satrajali
Juru siring
Nama-nama lain dari ketiga sumber adalah :
( Kidung Sunda )
Rangga Wirawangsa
Ken Jalak
Ki Jagat Gurusakti
Patih Anepaken
Patih Pitar
Unur
Ki Borang
( Pararaton )
Orang Pengulu
Orang Siring
(Pustaka Nusantara II)
Ki Penghulu Sora
Patih Wirayuda
Nakoda Braja
Nakoda Bule
Ki Juruwastra
Mantri Sabrang Keling
Ki Mantri Sapit Kalingking
Dengan demikian ada sekitar 27 nama bangsawan Sunda yang disebut dalam pertempuran di Bubat dan diabadikan dalam kitab-kitab.
8.    Novel – novel
Beberapa novel tentang Parang Bubut yang perang saya baca cenderung bersikap seperti penulis Pustaka Nuasantara dalam naskah Wangsakerta, yakni menyejukkan ketegangan. Namun karya fiksi memerlukan pengetahuan sejarah dan budaya zamannya, yang rata-rata kurang nampak dalam karya-karya fiksi sejarah Perang Bubat. Sikap Gajah Mada yang menjadi sumber timbulnya perang tersebut ada yang menafsirkan bahwa Gajah Mada waktu mudanya pernah bertemu Dyah Pitaloka  di Sunda dan jatuh cinta. Dengan demikian dapat dimaklumi sikap Gajah Mada membatalkan perkawinan bekas kekasihnya ini.
Ada pula tafsir lain bahwa Dyah Pitaloka dan Prabu Maharaja tidak sampai tewas di Bubat, dan keduanya berhasil kembali ke Galuh pakuan. Gambaran-gambaran semacam ini mungkin berniat baik, namun kurang didukung oleh pengetahuan sejarah dan budaya sezaman yangn harus membaca dan mempelajari berpuluh-puluh buku. Dalam Kidung Sunda, misalnya, para utusan Sunda mau memasuki rumah Patih Gajah Mada. Gambaran dalam Kidung tersebut sudah jelas bagi pembaca zaman itu, yakni sekitar abad 16, namun bagi pembaca modern harus mempelajari dahulu pola rumah-rumah bangsawan Majapahit dari buku-buku arkeologi atau sejarah arsitektur Indonesia lama.
Apa yang dimaksud bahwa para utusan nekad masuk ruang pertemuan antara Gajah Mada dengan para mantrinya. Begitu pula lolosnya Maharaja kembalil ke Galuh pakuan tentu saja tidak harus lewat daratan yang begitu panjang untuk masa kini, apalagi masa lampau (baca buku Bhujangga Manik), lebih masuk akal kalau oaring yang luka parah lebih cepat menuju kapal-kapal Sunda yang berlabuh jauh dari Majapahit, misalnya di Gresik dan Tuban seperti dikisahkan dalam sumber-sumber lama tersebut.
Realitas kadang memang tidak masuk akal, tetapi karya fiksi justru dituntut logika formal maupun logika imajinernya. Penulis novel sejarah bukan hanya menyajikan cerita tetapi juga menyajikan kebudayaan masa lampau lengkap dengan cara hidup mereka, cara berpikir mereka, cara berpakaian mereka, cara membangun rumah dan kraton, cara menerima tamu biasa dan tamu terhormat, dan banyak lagi.
Itulah yang saya tangkap sepintas dari novel-novel yang pernah saya baca tentang peristiwa Bubat ini.






9.    Penutup
Membongkar kepercayaan kolektif, entah bersumber dari tradisi mitos atau historis, tidak mudah. Untuk itu diperlukan karya monumental dari segala aspeknya namun tetap tidak memanipulasi fakta sejarahnya.
SUMBER  BACAAN
Edi  S. Ekadjati,  Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta, Pustaka Jaya  2005
Saleh Danasasmita et.al. Sejarah Jawa Barat, Pemda Jabar, 1984
Berg C.C. Penulisan Sejarah Jawa, terjemahan S. Gunawan Bhratara, 1974
Atja, Saleh Danasasmita, Carita Parahiyangan, Museum Jabar, 1981
Hasan Wirasutisna (terjemahan), Kidung Sunda I, II, Dept. Pendidikan dan Kebudayaan 1980
Ki J. Padmopuspita, Pararaton, Taman Siswa Yogya, 1966
Noorduyn. J. Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa : Data Topografis Dari Sumber Sunda Kuno, LIPI 1984 (terjemahan Iskandarwassid).
Atja, Ayat Rohaedi, Negarakretabhumi I.5, Sundanologi Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, 1986
Aan Merdeka Permana, Perang Bubat, novel, Qanita, 2009.